KENDARI — Universitas Mandala Waluya, salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di Sulawesi Tenggara, menggelar acara Festival Olahraga dan Seni Budaya mahasiswa terbesar dalam dua tahun terakhir. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Unit Aspirasi Mahasiswa (UAM) ini dimulai pada Senin, 31 Maret 2026, dan berlangsung selama lima hari berturut-turut dengan melibatkan lebih dari 2.000 mahasiswa dari berbagai program studi.
Perhelatan tahunan ini menjadi momentum penting bagi civitas akademika Universitas Mandala Waluya untuk menampilkan bakat, kreativitas, serta solidaritas di antara mahasiswa. Selain itu, festival ini juga bertujuan untuk memperkuat identitas budaya lokal Sulawesi Tenggara, khususnya warisan budaya Kendari yang kaya dan beragam.
Latar Belakang dan Tujuan Kegiatan
Unit Aspirasi Mahasiswa Universitas Mandala Waluya, sebagai organisasi mahasiswa yang secara struktural mendapat mandat untuk mengembangkan potensi akademik dan non-akademik, telah merencanakan festival ini selama enam bulan sebelumnya. Ide awal muncul dari keputusan Rapat Koordinasi Umum mahasiswa pada bulan Oktober 2025 lalu, yang menekankan pentingnya pengayaan pengalaman mahasiswa di luar kelas.
Acara festival ini dirancang dengan konsep “Mandala Kreatif 2026: Olahraga, Seni, dan Identitas Budaya”, yang mengintegrasikan tiga elemen utama. Pertama, kompetisi olahraga konvensional yang mencakup berbagai cabang olahraga populer. Kedua, pertunjukan seni budaya yang menggali kedalaman tradisi lokal. Ketiga, workshop dan seminar yang memberikan wawasan tentang pelestarian warisan budaya Sulawesi Tenggara.
Menurut laporan resmi dari sekretariat UAM, keputusan untuk mengadakan festival berskala besar ini didorong oleh meningkatnya antusiasme mahasiswa terhadap kegiatan non-akademik, serta minimnya ruang ekspresi budaya lokal di program-program akademik regular. Festival ini menjadi jawab atas kebutuhan tersebut.
Rangkaian Acara Olahraga yang Komprehensif
Komponen olahraga menjadi salah satu fokus utama dalam festival kali ini. Penyelenggaraan mencakup enam cabang olahraga utama, yaitu futsal, bola voli, bulu tangkis, tenis meja, catur, dan lari marathon lintas kampus.
Cabang futsal menampilkan 24 tim yang berasal dari berbagai jurusan dan fakultas di Universitas Mandala Waluya. Kompetisi ini diadakan di Aula Olahraga Indoor kampus yang baru direnovasi bulan lalu. Sementara itu, pertandingan bola voli putri dan putra berlangsung di lapangan outdoor dengan standar internasional, melibatkan 16 tim dengan total 200 atlet.
Lari marathon lintas kampus menjadi highlight yang menarik perhatian publik. Peserta berpacu sejauh 10 kilometer dengan rute yang melewati area kampus, jalan Hayam Wuruk, dan berakhir di Taman Kota Kendari. Sebanyak 800 mahasiswa mendaftar untuk kategori marathon reguler, sedangkan 300 mahasiswa lainnya mengikuti kategori fun run tanpa kompetisi.
Ketua panitia cabang olahraga, Dino Pratama, mahasiswa semester enam dari Program Studi Manajemen Olahraga, menjelaskan detail persiapan mereka: “Kami telah mempersiapkan segala aspek teknis sejak tiga bulan lalu. Dari penyediaan arbitrer terlatih, perlengkapan standar, hingga sistem penilaian yang transparan. Setiap cabang olahraga dipandu oleh panitia khusus yang telah mengikuti training intensif.”
Memeriahkan Panggung Seni dan Budaya
Tidak kalah menarik adalah serangkaian pertunjukan seni dan budaya yang mencerminkan kekayaan tradisi Sulawesi Tenggara. Program ini dibagi menjadi tiga kategori: seni pertunjukan tradisional, seni pertunjukan modern, dan pameran seni rupa.
Dalam kategori seni pertunjukan tradisional, mahasiswa menampilkan tarian-tarian khas daerah seperti Tari Balumba dari Kendari, Tari Mandau dari suku Dayak, dan Tari Cakalele dari Maluku. Selain itu, ada juga pertunjukan musik tradisional dengan alat-alat musik asli seperti sasando, gong, dan kolintang. Pertunjukan ini berlangsung di panggung utama yang didirikan khusus di halaman pusat kampus dengan kapasitas 2.500 penonton.
Kategori seni pertunjukan modern menampilkan band musik, grup tari kontemporer, dan pertunjukan teater yang dikurasi oleh mahasiswa sendiri. Salah satu pertunjukan yang paling ditunggu adalah penampilan dari grup K-Pop peminat Universitas Mandala Waluya, yang akan mempergelarkan interpretasi kreatif mereka terhadap musik tradisional Sulawesi.
Sementara itu, pameran seni rupa menampilkan karya-karya mahasiswa dalam berbagai medium seperti lukisan, patung, instalasi, dan karya digital. Sebanyak 150 karya seni dari 89 mahasiswa ditampilkan di gedung galeri seni kampus yang beroperasi khusus untuk acara ini.
Dr. Hendra Wijaya, Dekan Fakultas Seni dan Budaya Universitas Mandala Waluya, mengapresiasi inisiatif UAM: “Apa yang dilakukan Unit Aspirasi Mahasiswa ini sangat luar biasa. Mereka tidak hanya menyelenggarakan festival biasa, tetapi menciptakan platform yang bermakna untuk pelestarian budaya lokal. Ini sejalan dengan visi universitas kami untuk menjadi jembatan antara akademisi dan komunitas masyarakat.”
Keterlibatan Komunitas dan Masyarakat Luas
Salah satu aspek unik dari festival ini adalah keterlibakan aktif dari komunitas masyarakat Kendari dan sekitarnya. UAM telah mengundang 15 kelompok seni tradisional dari berbagai kampung dan desa sekitar Kendari untuk menampilkan keahlian mereka. Dengan demikian, festival ini menjadi medium pertukaran pengetahuan dan apresiasi budaya antara mahasiswa dan masyarakat lokal.
Selain itu, pihak universitas juga bermitra dengan Dinas Pariwisata Kota Kendari dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara untuk memberikan dukungan administratif dan promosi. Kemitraan ini memastikan bahwa festival mendapat liputan media yang luas dan partisipasi masyarakat yang optimal.
Akses masuk ke festival dijadikan gratis untuk umum, kecuali untuk area VIP yang dikhususkan bagi tamu penting. Dengan kebijakan ini, penyelenggara memastikan bahwa semangat olahraga dan seni budaya dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat Kendari, tanpa memandang latar belakang ekonomi.
Dukungan dan Pernyataan dari Pimpinan Universitas
Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Bambang Setiawan, M.Ed., dalam sambutan resmi pembukaan festival pada Senin pagi, 31 Maret 2026, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap seluruh panitia dan peserta.
“Festival Olahraga dan Seni Budaya yang kita selenggarakan hari ini adalah bukti nyata komitmen Universitas Mandala Waluya terhadap pengembangan holistik mahasiswa. Kami percaya bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada pembelajaran akademik, tetapi juga pengembangan karakter, kreativitas, dan kesadaran budaya. Melalui festival ini, mahasiswa kita belajar tentang kolaborasi, disiplin, inovasi, dan penghargaan terhadap warisan budaya kita,” ujar Prof. Bambang, yang hadir didampingi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. Siti Nurhaliza, M.Si.
Dr. Siti Nurhaliza menambahkan: “Saya sangat bangga melihat antusiasme mahasiswa dalam persiapan festival ini. Unit Aspirasi Mahasiswa telah menunjukkan manajemen event yang profesional. Dari aspek administratif, finansial, hingga teknis, semuanya dijalankan dengan standar yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa kita memiliki kemampuan leadership yang luar biasa.”
Kepala Unit Aspirasi Mahasiswa, Rifqi Azimuth Fauzan, seorang mahasiswa semester tujuh dari Program Studi Ilmu Komunikasi, menyampaikan rasa syukurnya atas kesuksesan acara yang telah mereka ciptakan: “Ini adalah hasil kerja keras tim kami yang terdiri dari 150 panitia terkoordinasi. Setiap orang memberikan kontribusi terbaik mereka. Kami ingin festival ini menjadi tradisi tahunan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh mahasiswa Universitas Mandala Waluya.”
Dampak dan Nilai yang Diharapkan
Dengan menghadirkan festival yang mengintegrasikan olahraga dan seni budaya, Universitas Mandala Waluya berharap dapat menciptakan dampak positif yang berkelanjutan. Dari perspektif mahasiswa, festival ini memberikan kesempatan untuk mengembangkan soft skills seperti kepemimpinan, manajemen proyek, komunikasi, dan kolaborasi tim.
Dari perspektif komunitas lokal, festival ini menjadi medium yang kuat untuk mempromosikan seni dan budaya Sulawesi Tenggara kepada generasi muda, sekaligus membuka dialog tentang pentingnya pelestarian warisan budaya. Penelitian sosial menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan budaya lokal meningkatkan sense of belonging dan civic responsibility mereka terhadap komunitas.
Dari perspektif akademik, kegiatan ekstrakurikuler seperti ini terbukti meningkatkan prestasi akademik mahasiswa karena memberikan outlet yang sehat untuk stress management dan meningkatkan mental health. Beberapa penelitian dari Universitas Mandala Waluya sendiri menunjukkan korelasi positif antara keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan non-akademik dan nilai rata-rata semester mereka.
Respons Mahasiswa dan Pengunjung
Antusiasme mahasiswa terhadap festival sangat tinggi. Dalam survei cepat yang dilakukan oleh panitia, 92% dari 500 responden mahasiswa menyatakan bahwa mereka puas atau sangat puas dengan penyelenggaraan festival. Banyak yang memuji organisasi yang rapi, fasilitas yang memadai, dan variasi acara yang beragam.
Seorang mahasiswa bernama Ayu Putri Laksana, dari Program Studi Akuntansi, berbagi pengalamannya: “Saya sangat senang bisa melihat tari tradisional dari daerah-daerah yang sebelumnya saya tidak kenal. Festival ini memberikan saya perspektif baru tentang kekayaan budaya Indonesia. Saya juga mengikuti kompetisi bola voli dan benar-benar merasakan semangat kebersamaan di antara teman-teman dari berbagai jurusan.”
Dari pihak pengunjung masyarakat umum, estimasi penonton yang hadir mencapai 8.000 orang setiap harinya. Kepuasan pengunjung juga tinggi, dengan banyak yang menyatakan bahwa festival ini adalah event budaya yang mereka tunggu-tunggu dan berharap akan diadakan kembali di tahun-tahun mendatang.
Penutup dan Perspektif Masa Depan
Festival Olahraga dan Seni Budaya yang diselenggarakan oleh Unit Aspirasi Mahasiswa Universitas Mandala Waluya pada akhir Maret 2026 ini telah berhasil menciptakan momentum positif yang akan terus dikenang dalam sejarah kampus. Dengan melibatkan lebih dari 2.000 mahasiswa dan 8.000 pengunjung setiap harinya, festival ini membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia masih memiliki semangat tinggi untuk mengapresiasi dan melestarikan warisan budaya lokal, sambil tetap berkembang dalam berbagai aspek kehidupan.
Ke depannya, Universitas Mandala Waluya berencana untuk menjadikan festival ini sebagai agenda tetap tahunan yang akan terus dikembangkan dan ditingkatkan. Dengan fondasi yang solid yang telah dibangun pada tahun 2026 ini, festival diharapkan dapat menjadi landmark event di Kota Kendari dan menarik partisipasi dari universitas-universitas lain di Sulawesi Tenggara.
Dengan kesuksesan ini, Universitas Mandala Waluya sekali lagi membuktikan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya menghasilkan sarjana yang kompeten di bidang akademik, tetapi juga individu-individu yang berkarakter, kreatif, dan peka terhadap kebutuhan masyarakat serta pelestarian budaya nasional.
—
[Berita ini ditulis pada 31 Maret 2026, dari Kendari, Sulawesi Tenggara]