KENDARI — Universitas Mandala Waluya (UMW) melalui Unit Aspirasi Mahasiswa (UAM) mengambil langkah strategis dalam mendorong peningkatan mutu akademik dan akreditasi institusional. Inisiatif komprehensif ini diluncurkan di tengat komitmen pemerintah untuk meningkatkan standar pendidikan tinggi Indonesia secara keseluruhan, khususnya di kawasan Sulawesi Tenggara.
Dalam sebuah forum diskusi terbuka yang diselenggarakan pada Senin, 13 April 2026, di Gedung Rektorat UMW Kendari, Unit Aspirasi Mahasiswa mempresentasikan roadmap peningkatan kualitas akademik yang akan menjadi fondasi bagi permohonan akreditasi internasional kampus. Acara yang dihadiri lebih dari 300 mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan ini menandai momentum penting dalam perjalanan UMW menuju pengakuan global.
Latar Belakang Inisiatif Peningkatan Mutu
Universitas Mandila Waluya, yang telah beroperasi sejak 1998, merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi swasta terkemuka di Kendari dengan fokus pada program-program keilmuan sosial, teknik, dan bisnis. Namun, seperti banyak universitas swasta di Indonesia, UMW menghadapi tantangan dalam meningkatkan akreditasi program studi dan institusional ke level internasional.
Data internal menunjukkan bahwa dari 45 program studi yang dimiliki UMW, hanya 28 program (62 persen) yang telah mendapatkan akreditasi nasional dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dengan peringkat A. Sementara itu, belum ada satupun program studi UMW yang telah meraih akreditasi internasional, menjadi hambatan signifikan dalam meningkatkan daya saing global.
“Kondisi ini mendorong kami untuk melakukan introspeksi mendalam tentang standar kualitas yang kami miliki,” ungkap Dr. Budi Santoso, Rektor UMW Kendari, dalam sambutannya di acara forum diskusi tersebut. “Unit Aspirasi Mahasiswa memiliki peran krusial dalam mengidentifikasi kelemahan sistem akademik kami dari sudut pandang pengguna langsung, yakni mahasiswa.”
Unit Aspirasi Mahasiswa UMW, yang secara struktural berada di bawah koordinasi Wakil Rektor Bidang Akademik, merupakan lembaga representasi mahasiswa yang didirikan pada 2015 dengan mandat khusus untuk mengadvokasi hak-hak mahasiswa sekaligus berkontribusi dalam peningkatan mutu akademik.
Elemen-Elemen Strategi Peningkatan Mutu
Dalam presentasinya, Ketua Unit Aspirasi Mahasiswa UMW, Siti Nurhaliza, mahasiswa semester delapan jurusan Manajemen Pendidikan, menguraikan komponen-komponen utama dari strategi peningkatan mutu yang telah disusun melalui konsultasi dengan stakeholder internal dan eksternal.
“Strategi kami didasarkan pada tiga pilar utama: pertama, peningkatan kualitas pembelajaran di kelas; kedua, penguatan riset dan publikasi ilmiah; dan ketiga, pengembangan infrastruktur akademik,” jelas Siti dalam presentasinya yang berlangsung selama 45 menit.
Pilar pertama, peningkatan kualitas pembelajaran, mencakup reformasi kurikulum yang lebih responsif terhadap kebutuhan industri, pelatihan pedagogis untuk dosen, serta implementasi teknologi pembelajaran berbasis digital. UMW telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2,5 miliar untuk program pelatihan 400 dosen dalam metodologi pembelajaran inovatif selama tahun akademik 2025-2026.
“Kami mengundang para dosen untuk mengikuti sertifikasi pedagogis internasional melalui kerjasama dengan universitas mitra di Malaysia dan Thailand,” tambah Siti. “Selain itu, setiap program studi diminta untuk melakukan analisis keselarasan kurikulum dengan standar internasional, minimal dengan framework ASEAN University Network (AUN).”
Pilar kedua, penguatan riset dan publikasi, merupakan fokus khusus mengingat publikasi ilmiah merupakan indikator penting dalam penilaian akreditasi internasional. Universitas Mandala Waluya telah membentuk Research Enhancement Office (REO) yang akan memberikan pendampingan intensif kepada dosen-peneliti dalam menyiapkan naskah untuk publikasi di jurnal internasional terindeks.
“Target kami, setiap dosen minimal menghasilkan satu publikasi di jurnal terakreditasi internasional per tahun, dan setiap program studi harus menghasilkan minimal 10 publikasi per tahun dalam lima tahun ke depan,” kata Koordinator REO, Dr. Hamdan Wijaya, dalam sesi tanya jawab. “Untuk mendukung hal ini, kami telah mengalokasikan dana penelitian dengan total Rp 4 miliar untuk tahun fiskal 2026.”
Pilar ketiga, pengembangan infrastruktur akademik, meliputi renovasi perpustakaan, peningkatan kapasitas laboratorium, serta pengembangan learning management system (LMS) berbasis cloud computing. Universitas telah menjalin kerjasama dengan perusahaan teknologi lokal untuk mengimplementasikan sistem manajemen pembelajaran yang terintegrasi dengan sistem penilaian elektronik.
Perspektif Pimpinan Universitas
Dr. Budi Santoso, yang telah memimpin UMW sejak 2019, menekankan bahwa komitmen terhadap peningkatan mutu bukanlah sekadar slogan, melainkan transformasi struktural yang melibatkan seluruh elemen kampus.
“Akreditasi internasional bukan tujuan akhir, tetapi sarana untuk memastikan bahwa civitas akademika kami, terutama mahasiswa, mendapatkan pendidikan berkualitas yang setara dengan standar global,” ujar Rektor Santoso dalam konferensi pers usai forum diskusi. “Kami berkomitmen untuk mengalokasikan 15 persen dari total anggaran operasional kampus untuk inisiatif peningkatan mutu selama lima tahun ke depan.”
Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Eka Prasetya, menambahkan bahwa proses akreditasi internasional memerlukan keterlibatan aktif seluruh lembaga di universitas. “Unit Aspirasi Mahasiswa memainkan peran sebagai quality assurance eksternal dari perspektif mahasiswa. Feedback mereka sangat berharga untuk perbaikan berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Direktur Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UMW, Dra. Susi Hartini, M.Ed., memaparkan timeline konkret untuk persiapan akreditasi internasional. “Pada akhir 2026, kami akan melakukan self-evaluation komprehensif untuk tiga program studi unggulan: Teknik Informatika, Manajemen, dan Pendidikan Bahasa Inggris,” jelasnya. “Target kami, ketiga program ini akan mendapatkan akreditasi internasional paling lambat pada 2028.”
Peran Strategis Mahasiswa dalam Peningkatan Mutu
Ketua UAM Siti Nurhaliza menekankan bahwa mahasiswa tidak hanya menjadi subjek pasif dalam proses peningkatan mutu, tetapi aktor aktif yang memiliki tanggung jawab dalam memastikan implementasi rencana ini.
“Unit Aspirasi Mahasiswa telah membentuk tim monitorin yang akan melakukan evaluasi kuartalan terhadap implementasi strategi peningkatan mutu,” papar Siti. “Tim kami akan menelusuri apakah peningkatan kualitas pembelajaran benar-benar dirasakan oleh mahasiswa di tingkat kelas, bagaimana dukungan dosen terhadap riset mahasiswa, dan apakah infrastruktur akademik yang ada sudah optimal.”
Selain itu, UAM juga akan mengorganisir student peer tutoring program, yakni program mentoring antar mahasiswa untuk membantu peningkatan prestasi akademik. “Kami juga mendorong mahasiswa untuk aktif dalam penelitian melalui program student researcher assistant,” tambahnya.
Salah satu mahasiswa yang hadir dalam forum diskusi, Ahmad Rizki dari Program Studi Teknik Elektro semester enam, mengapresiasi inisiatif ini. “Selama kuliah di sini, saya melihat bahwa fasilitas laboratorium kami masih terbatas dibandingkan universitas lain. Dengan adanya rencana peningkatan ini, saya harap fasilitas tersebut benar-benar ditingkatkan sehingga kami dapat melakukan penelitian yang lebih baik,” katanya.
Mahasiswi lain, Dhea Pratiwi dari Program Studi Manajemen semester lima, berharap bahwa dosen juga dapat lebih memberikan bimbingan dalam penulisan karya ilmiah. “Saya ingin publikasi saya bisa diterima di jurnal internasional, tetapi butuh bimbingan intensif dari dosen pembimbing,” ujarnya.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Meski antusiasme tinggi, namun tidak dapat dipungkiri bahwa UMW menghadapi sejumlah tantangan dalam mewujudkan target peningkatan mutu ini. Dr. Hamdan Wijaya mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar adalah peningkatan publikasi ilmiah dosen.
“Mayoritas dosen di UMW masih fokus pada tugas mengajar, sementara penelitian menjadi aktivitas sampingan. Diperlukan perubahan mindset dan kebijakan insentif yang kuat untuk mendorong penelitian,” katanya. “Kami juga masih kekurangan tenaga dosen dengan gelar doktor di beberapa program studi, sehingga memerlukan rekrutmen dan pengembangan SDM secara agresif.”
Tantangan lain adalah keterbatasan anggaran. Meskipun universitas telah mengalokasikan dana signifikan, namun transformasi digital dan peningkatan infrastruktur memerlukan investasi yang sangat besar. “Kami sedang mengeksplorasi kerjasama dengan industri dan alumni untuk mendapatkan dukungan finansial tambahan,” jelas Rektor Santoso.
Namun, Prof. Eka Prasetya optimis bahwa tantangan ini dapat diatasi dengan komitmen dan kolaborasi yang solid. “Universitas Mandala Waluya memiliki keunggulan komparatif sebagai universitas swasta yang agile dalam mengambil keputusan. Kami juga memiliki jaringan alumni yang tersebar di berbagai institusi pemerintah dan swasta yang dapat menjadi mitra strategis,” ujarnya.
Dampak Jangka Panjang bagi Ekosistem Pendidikan Kendari
Inisiatif peningkatan mutu UMW tidak hanya berdampak pada institusi itu sendiri, tetapi juga pada ekosistem pendidikan tinggi di Kendari secara lebih luas. Sebagai salah satu universitas swasta terbesar di kota, peningkatan kualitas UMW akan meningkatkan daya saing pendidikan tinggi Kendari di tingkat nasional dan regional.
“Keberhasilan UMW dalam meraih akreditasi internasional akan menjadi inspirasi bagi universitas dan lembaga pendidikan lain di Kendari untuk meningkatkan standar kualitas mereka,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Kendari, Bambang Suryanto, dalam sambutan terpisah. “Ini akan berkontribusi pada visi Pemerintah Kota Kendari untuk menjadikan kota ini sebagai pusat pendidikan berkualitas di Kawasan Timur Indonesia.”
Selain itu, peningkatan kualitas akademik juga akan menciptakan lulusan yang lebih kompetitif di pasar kerja global. “Alumni UMW yang memiliki kredensial dari universitas terakreditasi internasional akan memiliki peluang karir yang lebih luas, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional,” demikian Dra. Susi Hartini.
Penutup
Langkah Universitas Mandala Waluya dalam meningkatkan mutu akademik dan mengejar akreditasi internasional melalui Unit Aspirasi Mahasiswa menunjukkan komitmen serius institusi ini terhadap excellence. Dengan roadmap yang jelas, alokasi anggaran yang memadai, dan keterlibatan aktif semua stakeholder, target peningkatan mutu tampak realistis untuk dicapai.
Sebagai institusi pendidikan yang telah melayani Kendari dan sekitarnya selama lebih dari 25 tahun, UMW kini memasuki fase baru dalam sejarah panjangnya—fase transformasi menuju standar internasional. Perjalanan ini tidak akan mudah, namun dengan semangat kolaboratif yang ditunjukkan dalam forum diskusi tanggal 13 April 2026 ini, harapan untuk meraih akreditasi internasional dalam waktu dekat sangat tinggi.
Ke depannya, masyarakat Kendari dan dunia pendidikan Indonesia akan terus memantau progres UMW dalam mewujudkan visi menjadi universitas berkualitas internasional yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman dan inklusi akademik.
—
Berita ini ditulis berdasarkan forum diskusi dan konferensi pers yang diselenggarakan Universitas Mandala Waluya pada 13 April 2026 di Kendari.